KuBisnis

Akankah Terjadi Krisis Ekonomi Besar di 2017-2018?

Laman ini adalah tampilan ponsel kilat. Akses versi lengkap laman ini di: Akankah Terjadi Krisis Ekonomi Besar di 2017-2018? (untuk mengaktifkan menu dan desain).

Percepatan, perlambatan, dan krisis ekonomi merupakan hal yang bergantian terjadi dalam siklus ekonomi.[1] Krisis tidak dapat dihindari tapi dapat diantisipasi agar seseorang dapat melewatinya tanpa masalah yang berarti. Krisis ekonomi konon terjadi setiap 10 tahun sekali dan kejadian bangkrutnya negara-negara terakhir terjadi pada tahun 2007-2008, yang dikenal dengan sebutan krisis finansial 2008. Dimulai dari kegagalan pembiayaan properti di Amerika Serikat, masalah ini menghantam perekonomian berbagai negara, seperti Latvia, Estonia, Islandia, Irlandia, Lithuania, dan Ukraina. Krisis ekonomi umumnya berawal dari krisis finansial yang tidak dapat dikelola dengan baik oleh pemerintah. Lalu, akankah hal yang serupa terjadi di 2017-2018?

Prediksi Krisis Ekonomi Dari Para Pengamat

Jim Rogers adalah seorang pengusaha dan investor terkenal di Amerika serikat. Ia meramalkan akhir tahun ini atau tahun depan akan terjadi crash pada pasar saham di Amerika Serikat. Ia juga mengatakan tingkat keparahan dari kejadian ini akan menjadi yang terburuk seumur hidupnya.[2]

Alan Greenspan adalah seorang pakar ekonomi yang pernah menjabat sebagai direktur Federal Reserve Amerika Serikat. Ia mengatakan telah terjadi bubble di pasar obligasi AS. Suku bunga jangka panjang riil terlalu rendah sehingga tidak mampu dipertahankan pada tingkat tersebut. Ketika bubble obligasi itu pecah, maka akan membuat naiknya suku bunga obligasi yang akhirnya berimbas juga pada pasar saham.[3]

Jared Dillian adalah seorang mantan trader di Lehman Brothers. Ia mengatakan bahwa saat ini bubble tidak hanya terjadi di pasar saham, tetapi terjadi di berbagai pasar. Bubble terjadi di properti, saham, obligasi, mata uang digital, dll. Ia mempertaruhkan reputasinya kalau pasar akan menurun (bearish) dalam waktu 6-12 bulan ke depan.[4]

Lalu kalaupun terjadi krisis finansial di AS, apa pengaruhnya terhadap Indonesia? Ketika pasar saham AS anjlok, maka investor-investor AS akan menarik dana mereka yang berada di luar AS (termasuk yang berada di Indonesia). Hal ini kemudian akan menyebabkan pasar saham Indonesia juga ikut-ikutan anjlok. Belum lagi apabila krisis finansial diikuti dengan krisis ekonomi di AS, maka impor AS akan menurun tajam. Akibatnya, ekspor Indonesia ke AS (dan negara lain yang terkena imbasnya) menjadi terganggu. Perusahaan-perusahaan Indonesia yang bergantung dari ekspor dapat mengalami masalah keuangan sampai gulung tikar. Ketika kondisi perekonomian global memburuk, pariwisata di Indonesia juga tentunya menjadi sepi.

Namun kita yang berada di Indonesia tidak perlu khawatir akan terjadi krisis seperti tahun 1998 karena pemerintah Indonesia telah belajar banyak dan melakukan banyak perubahan kebijakan fundamental sejak saat itu.[5] Yang mungkin terjadi adalah jatuhnya IHSG karena memang sudah terlampau mahal. Kemudian, Indonesia juga dapat mengalami perlambatan ekonomi namun efek yang dirasakan tidaklah sedahsyat waktu-waktu sebelumnya, karena saat ini ekonomi Indonesia pun hanya tumbuh 5%.[6]

Tanda-Tanda Krisis Ekonomi Akan Terjadi

Untuk mengetahui tanda-tanda krisis ekonomi, kita terlebih dahulu menganalisis krisis finansial yang mendahuluinya. Bubble adalah istilah yang merujuk pada gelembung yang semakin lama semakin besar lalu kemudian pecah. Tanda-tanda bubble adalah naiknya harga nominal suatu aset jauh melebihi harga riil atau intrinsiknya. Saat ini pasar saham AS dan di Indonesia memasuki rekor-rekor tertinggi tanpa diimbangi dengan pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan profitabilitas perusahaan-perusahaan yang diperdagangkan.

Terdapat beberapa indikator apabila kita menganalisis bubble pasar saham, yaitu:[7]

Apabila Anda menyukai artikel KuBisnis, bantu KuBisnis untuk tumbuh di www.facebook.com/KuBisnis/

Berdasarkan hal-hal di atas, terlihat bahwa pasar saham Indonesia hanya tinggal tunggu waktunya saja mengalami penurunan tajam. Penurunan ini akan jauh lebih tajam apabila dipicu oleh krisis finansial AS. Kita juga dapat menilik adanya bubble dari sikap investasi yang mulai semakin tidak rasional. Saat ini selain mahalnya harga saham dan obligasi, investor sudah mulai menilik peluang investasi di mata uang digital. Mereka mengambil pilihan investasi hanya karena tergiur meningkatnya harga bitcoin dan altcoin dari waktu ke waktu tanpa mengerti apa sebenarnya bitcoin, teknologi, dan karakteristik bitcoin itu sendiri.

Ilustrasi bubble pasar | Gambar oleh Udo Keppler (wikipedia) adalah tidak berlisensi (domain publik)

Ketika gelembung-gelembung mulai pecah, ini akan menjadi saat yang menentukan apakah krisis finansial akan mengakibatkan krisis ekonomi (pertumbuhan GDP minus, pengangguran meningkat, dll). Sikap dan kebijakan preventif pemerintah akan menjadi faktor kunci yang menentukan hal ini.

Persiapan Dalam Menghadapi Krisis Ekonomi

Meskipun krisis ekonomi parah kecil kemungkinannya dapat terjadi, tetapi krisis finansial dan krisis ekonomi kecil-kecilan masih dapat terjadi. Berikut ini adalah tips-tips untuk mempersiapkan diri menghadapi krisis ekonomi:[8]

Referensi
  1. Investopedia contributors, “Economic Cycle,” Investopedia.com, http://www.investopedia.com/terms/e/economic-cycle.asp (diakses 28 Augustus, 2017).
  2. Frank, J. & Chin, K., “JIM ROGERS: The worst crash in our lifetime is coming,” Businessinsider.com, http://www.businessinsider.com/jim-rogers-worst-crash-lifetime-coming-2017-6/ (diakses 28 Augustus, 2017).
  3. Cox, J., “Greenspan: Bond bubble about to break because of ‘abnormally low’ interest rates,” Cnbc.com, https://www.cnbc.com/2017/08/04/greenspan-bond-bubble-about-to-break-because-of-abnormally-low-interest-rates.html (diakses 28 Augustus, 2017).
  4. Dillian, J., “A former Lehman Brothers trader bets his reputation that the ‘everything bubble’ will pop in a year,” Businessinsider.com, http://www.businessinsider.com/former-lehman-brothers-bets-bubble-will-pop-in-a-year-2017-6/ (diakses 28 Augustus, 2017).
  5. Rudiyanto, “Apakah Siklus Krisis Keuangan 10 Tahun Akan Terjadi di 2018 ?,” Kontan.co.id, http://rudiyanto.blog.kontan.co.id/2017/04/25/apakah-siklus-krisis-keuangan-10-tahun-akan-terjadi-di-2018/ (diakses 28 Augustus, 2017).
  6. Setiawan, S. R. D., “Pertumbuhan Ekonomi 5 Persen Tak Bagus untuk Indonesia, Kenapa?,” Kompas.com, http://ekonomi.kompas.com/read/2017/08/02/164852726/pertumbuhan-ekonomi-5-persen-tak-bagus-untuk-indonesia-kenapa- (diakses 28 Augustus, 2017).
  7. Keimling, N., “Global Stock Market Valuation Ratios,” Starcapital.de, http://www.starcapital.de/research/stockmarketvaluation (diakses 28 Augustus, 2017).
  8. Amadeo, K., “U.S. Economic Crisis: History and Warning Signs,” Thebalance.com, https://www.thebalance.com/u-s-economic-crisis-3305668 (diakses 28 Augustus, 2017).

Kutip artikel ini:
Kontributor KuBisnis, 2017, "Akankah Terjadi Krisis Ekonomi Besar di 2017-2018?," Artikel KuBisnis, https://www.kubisnis.com/akankah-terjadi-krisis-ekonomi-2017-2018/ (diakses pada 24 Jan 2019).

Artikel Terkait:

Indeks Artikel

· © 2018 KuBisnis · Semua konten tulisan, gambar, dan video pada situs ini adalah hak cipta KuBisnis, kecuali dinyatakan khusus secara tertulis ·