Masuknya banyak orang ke dunia kripto hampir selalu dimulai dari pola yang serupa. Ada cerita tentang peluang, ada nama yang sering disebut, ada cuplikan keberhasilan yang terlihat meyakinkan. Di titik awal ini, keputusan jarang lahir dari pemahaman yang utuh. Ia lebih sering lahir dari rasa takut tertinggal dan dorongan untuk segera ikut sebelum kesempatan dianggap hilang. Kripto kemudian tidak dipahami sebagai sistem dengan aturan dan mekanisme tertentu, melainkan sebagai pintu yang harus segera dibuka, apa pun caranya.

Authority Bias dalam Keputusan Investasi Kripto Retail
Authority bias adalah kecenderungan kognitif di mana seseorang lebih mudah mempercayai pendapat dari figur yang dianggap berwenang (otoritas), meskipun pendapat tersebut belum tentu benar. Dalam kondisi seperti itu, figur memegang peran yang sangat besar. Kepercayaan pada sosok tertentu perlahan menggantikan proses berpikir mandiri. Banyak orang merasa bahwa jika seseorang tampil percaya diri dan terdengar meyakinkan, maka risiko seolah sudah disaring terlebih dahulu. Tanpa disadari, pertanyaan tentang bagaimana sebuah aset bekerja menjadi tidak lagi penting. Yang dianggap cukup hanyalah mengetahui siapa yang menyebutkannya dan seberapa sering ia diulang.
Dalam kondisi ini, seseorang juga mudah dimanipulasi oleh orang yang dianggapnya sebagai otoritas atau panutan tersebut. Ketika sang idola memerintahkan beli, dia ikut beli, sebaliknya bila sang idola memerintahkan jual, dia ikut jual. Akibatnya, alih-alih keputusan bersifat rasional, tentang apa guna proyek, bagaimana aset tersebut didistribusikan, siapa yang memegang porsi besar, atau bagaimana pola pelepasannya ke pasar, dia menggunakan keputusan emosional yang hanya dipandu oleh kepercayaannya terhadap figur tersebut.
Ekspektasi Instan dan Kesalahan Cara Pandang Investasi
Masalah berikutnya muncul dari ekspektasi yang dibawa sejak awal. Investasi sering kali dibayangkan sebagai jalan pintas untuk melompati fase yang seharusnya dijalani pelan-pelan. Ada harapan bahwa aset akan bekerja menggantikan upaya, bahwa passive income bisa hadir tanpa active income yang mapan. Ekspektasi ini jarang diuji sejak awal. Ia diterima begitu saja karena selaras dengan cerita-cerita yang beredar. Ketika realitas tidak bergerak secepat bayangan, kekecewaan pun muncul bukan karena salah membaca pasar, tetapi karena harapan yang sejak awal tidak berpijak pada struktur yang ada.
Ekspektasi ini timbul akibat amplifikasi narasi yang bersifat bombastis, tentang anak muda yang jadi milyader, membeli "Lambo," flexing kekayaan, dll. Ketika narasi bombastis tersebut terlihat mudah, banyak orang berpikir bahwa investasi adalah hal yang mudah, padahal kenyataannya berbeda. Hal ini sungguh merusak prinsip investasi yang sabar, dan mengecilkan risiko sampai tak terlihat. Cara pandang investasi yang tidak sehat ini merupakan awal mula banyak investor pemula tersesat di pasar kripto.
Ketika Harga Turun dan Narasi Mulai Berubah
Saat harga mulai bergerak turun, kebingungan menjadi reaksi yang paling umum. Narasi yang sebelumnya terdengar optimistis mulai berubah. Alasan baru bermunculan, penjelasan lama ditinggalkan. Fokus tidak lagi pada memahami apa yang sedang terjadi, melainkan pada mencari sumber kesalahan. Ada yang menyalahkan waktu, ada yang menyalahkan orang lain, ada pula yang merasa dirinya dipermainkan. Padahal pasar tidak memiliki niat atau kepedulian. Ia bergerak sesuai mekanisme yang sejak awal sudah bekerja, terlepas dari siapa yang masuk dan dengan alasan apa.
Perubahan harga yang seharusnya dipandang sebagai pergerakan pasar alami yang adalah mekanisme pasar untuk penentuan harga (price discovery) kini dipandang sebagai momok yang menakutkan akibat tidak paham akan risiko. Ketika investor berpengalaman menghitung risiko dan mengelola risiko, pelaku pasar awam terjerumus dengan siklus Fear Of Missing Out (FOMO) dan Fear, Uncertainty, and Doubt (FUD). Pada moment FUD inilah, mereka tidak lagi bisa berpikir rasional karena sejak awal tidak ada pemahaman tentang kemungkinan tersebut. Yang runtuh bukan hanya harga, tetapi juga keyakinan yang dibangun tanpa fondasi.
Pasar Kripto sebagai Mekanisme Netral
Ketika kerugian muncul dan sangat masif, narasi kemudian berubah dan mulai menjadikan kripto sebagai kambing hitam. Teknologinya dianggap tidak masuk akal, asetnya dinilai bermasalah. Namun jika ditelusuri lebih dalam, masalahnya jarang terletak pada teknologinya. Pasar bersifat netral. Ia hanya memantulkan cara seseorang masuk. Ketika keputusan dibuat tanpa memahami struktur seperti distribusi awal, insentif bagi pihak tertentu, atau pola pelepasan aset ke pasar, maka hasil yang muncul adalah konsekuensi logis dari struktur tersebut. Kerugian bukan kejutan, melainkan hasil yang tertunda dari keputusan yang diambil tanpa konteks.
Seseorang bisa kaya dari bursa kripto, namun dia juga bisa miskin dari bursa kripto. Bursa bersifat netral, hanya kecepatannya saja yang berbeda. Bursa kripto tidak jauh berbeda dari bursa yang lain, namun harus bisa dipahami kalau bursa kripto bergerak jauh lebih cepat dari bursa lain.
Dari Mengikuti Figur ke Memahami Mekanisme Pasar
Perubahan baru mulai terjadi ketika seseorang berhenti bertanya siapa yang mengatakan, dan mulai bertanya bagaimana sesuatu bekerja. Pergeseran ini tidak terjadi dalam semalam. Ia sering diawali oleh rasa tidak nyaman, oleh kesadaran bahwa mengikuti suara orang lain tidak memberikan pegangan saat situasi berubah. Dari sini, fokus perlahan berpindah dari hasil ke proses, dari janji ke mekanisme. Risiko tidak lagi dipandang sebagai sesuatu yang bisa dihindari sepenuhnya, tetapi sebagai bagian yang perlu dikenali sebelum keputusan diambil.
Ketika seseorang mulai fokus pada mekanisme dan bukan pada narasi idola, dia akan lebih memahami bagaimana cara pasar bekerja. Dia akan paham bagaimana menilai suatu aset, memahami melakukan peramalan (forecasting), mengetahui tokenomics, dan juga memahami serta dapat mengelola risiko. Dia juga dapat menyaring narasi-narasi bombastis yang menyesatkan dan tidak mudah dimanipulasi. Dengan cara ini, keputusan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada narasi eksternal, melainkan pada pemahaman internal tentang mekanisme yang berjalan.
Ketika seseorang lebih percaya dengan analisisnya sendiri dibandingkan dengan perkataan public figur. Kondisi mentalnya berubah dari seseorang yang mudah dimanipulasi, menjadi seseorang yang memiliki pengendalian diri. Ketika mekanisme pasar dipahami, kendali dari narasi manipulatif berpindah ke individu. Perubahan harga tidak lagi memicu reaksi emosional berlebihan. Risiko tidak dihilangkan, tetapi dikenali sejak awal, sehingga keputusan menjadi lebih konsisten dan tidak mudah digoyang oleh sentimen sesaat.
Pada akhirnya, tidak semua orang harus berada di kripto, dan tidak semua peluang perlu diambil. Yang lebih penting adalah memahami alasan pribadi saat masuk, ekspektasi yang dibawa, serta sejauh mana struktur risikonya benar-benar dipahami. Dari kesadaran itu, keputusan menjadi lebih tenang dan bertanggung jawab. Bukan karena mengikuti suara yang paling keras, tetapi karena memahami konsekuensi dari pilihan yang diambil.
Sumber: Begini Ciri Influencer Crypto yang Tukang Tipu⚠️ Miliarder Gen-Z Ini Buka Topeng Busuk Mereka
Kutip artikel ini:
Kontributor KuBisnis, 2026, https://www.kubisnis.com/dari-ikut-figur-ke-salah-ekspektasi-retail-kripto/ (diakses pada 19 Jul 2026).
Artikel ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda bisa mengirimkan saran pada KuBisnis di akun fb/twitter/google kami di @KuBisnis.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan artikel.




