Ada orang yang kerjanya bagus, idenya matang, pengalamannya panjang, tetapi tetap tidak terlalu disukai di kantor. Bukan sampai dibenci terang-terangan. Biasanya lebih halus dari itu. Suasananya dingin. Pendapatnya didengar, tetapi jarang dicari. Namanya tidak selalu masuk ketika ada pembicaraan penting. Ia tampak kompeten, namun tidak otomatis terasa nyaman untuk diajak dekat.
Kalau diringkas, penyebab seseorang tidak disukai di dunia kerja sering bukan karena ia kurang pintar atau kurang berprestasi. Lebih sering karena cara hadirnya membuat orang lain tegang, menjaga jarak, atau merasa interaksi dengannya terlalu berat. Kabar baiknya, ini bisa diubah. Bukan dengan pencitraan murahan, melainkan dengan memperbaiki cara kita berkomunikasi, membawa diri, dan memberi pengalaman yang lebih aman bagi orang lain.
Di tempat kerja, kemampuan memang penting. Namun kemampuan saja hampir tidak pernah cukup. Orang juga membaca hal-hal yang lebih halus, kadang bahkan sebelum mereka benar-benar mengenal kita. Mereka menilai apakah kita enak diajak kerja bareng, aman diajak bicara, dan cukup nyaman untuk dilibatkan dalam percakapan yang sensitif. Dalam psikologi sosial, yaitu ilmu yang mempelajari bagaimana manusia saling menilai dan saling memengaruhi, ada dua poros yang sering dipakai untuk membaca orang lain, yaitu warmth dan competence. Warmth berarti kesan hangat, aman, dan bisa dipercaya. Competence berarti kesan mampu, cakap, dan meyakinkan. Di kantor, dua hal ini bekerja diam-diam di balik banyak keputusan. Ada orang yang dihormati tetapi tidak disukai. Ada juga yang disukai, tetapi tidak terlalu diyakini. Posisi yang paling kuat biasanya ditempati orang yang terlihat mampu tanpa membuat orang lain tegang.

Masalahnya, banyak profesional terlalu sibuk membangun citra kompeten lalu lupa bahwa relasi kerja juga digerakkan oleh rasa aman. Mereka ingin terlihat cepat, tegas, tajam, efisien. Dari dalam diri sendiri, itu terasa seperti profesionalisme. Dari luar, belum tentu terbaca seperti itu. Yang sampai ke orang lain bisa saja kaku, defensif, terlalu keras, atau terlalu transaksional. Transaksional di sini berarti melihat interaksi terutama sebagai alat untuk mengambil hasil, bukan membangun hubungan. Niatnya mungkin baik. Efeknya belum tentu. Kita merasa sedang menunjukkan kualitas. Orang lain justru menangkap ancaman.
Di kantor, salah baca seperti ini mahal. Tidak selalu hadir dalam bentuk konflik besar. Sering justru datang dalam bentuk yang lebih sepi. Kita tidak diajak ke percakapan lanjutan. Nama kita tidak muncul saat ada proyek menarik. Orang berbicara secukupnya, lalu berhenti di sana. Kalau situasinya sudah seperti itu, pertanyaan “kenapa saya tidak disukai di kantor?” bukan lagi pertanyaan remeh. Itu pertanyaan strategis. Bukan karena kita ingin jadi favorit semua orang, melainkan karena kita perlu tahu apakah ada sesuatu dalam cara kita hadir yang membuat rekan kerja, atasan, atau klien menutup diri terlalu cepat.
Bukan karena Anda tidak hebat, tetapi karena orang menangkap sinyal yang salah
Kadang jawabannya tidak dramatis. Tidak ada intrik besar. Tidak ada musuh tersembunyi. Banyak orang tidak disukai di kantor hanya karena sinyal yang mereka kirim dibaca buruk.
Riset tentang thin-slice perception, yaitu kecenderungan manusia membentuk kesan dari potongan perilaku yang sangat singkat, membantu menjelaskan hal ini. Impresi sosial berarti kesan awal yang terbentuk saat kita menilai orang lain. Ekspresi wajah, nada suara, cara menatap, ritme merespons, sampai gerakan kecil bisa membentuk penilaian awal dengan cepat. Orang sering tidak menunggu lama untuk memutuskan apakah seseorang terasa enak dihadapi atau justru membuat mereka waspada.
Di tempat kerja, hal-hal kecil seperti itu bekerja terus-menerus. Anda masuk rapat dengan wajah tegang, lalu dianggap tidak ramah. Anda menyela dua kali karena terlalu bersemangat, lalu dibaca agresif. Anda langsung menembak inti masalah, lalu dianggap dingin. Anda jarang tersenyum karena sedang fokus, lalu orang menangkap kesan bahwa Anda tidak menikmati kehadiran mereka. Dari sudut pandang Anda, itu mungkin efisiensi. Dari sudut pandang orang lain, itu bisa terasa seperti berhadapan dengan tembok.
Di sinilah warmth dan competence menjadi relevan. Orang yang tinggi kompetensi tetapi rendah kehangatan sering tetap dihormati, hanya saja dijaga jaraknya. Mereka dianggap mampu, tetapi tidak mengundang kedekatan. Mereka bisa membuat orang patuh, tetapi belum tentu membuat orang nyaman. Mereka bisa membuat orang mengakui kualitasnya, tetapi tidak otomatis membuat orang ingin bekerja dekat dengan mereka.
Kalau Anda bertanya kenapa tidak disukai rekan kerja, kadang jawabannya memang sesederhana ini. Anda mungkin pintar, tetapi terasa terlalu keras. Anda mungkin cepat, tetapi juga terasa terlalu tajam. Anda mungkin sering benar, tetapi cara Anda hadir membuat orang lain siaga. Saat orang sudah siaga, hubungan kerja ikut berubah. Mereka tetap mendengar, tetapi separuh menutup diri. Mereka tetap hadir, tetapi tidak benar-benar membuka pintu.
Banyak orang tidak disukai karena terlalu transaksional dan terlalu miskin rasa
Ada tipe profesional yang bangga berkata, “Saya orangnya to the point.” Dalam situasi tertentu, itu bisa jadi kelebihan. Masalahnya, tidak sedikit orang memakai kalimat itu untuk menutupi kelemahan komunikasi yang cukup serius. Mereka masuk ke percakapan hanya untuk mengambil sesuatu. Jawaban. Keputusan. Persetujuan. Solusi. Setelah itu selesai.
Mereka tidak banyak membaca suasana. Mereka tidak terlalu peduli pada jembatan kecil yang membuat interaksi terasa manusiawi. Mereka ingin hasil yang cepat, bersih, dan langsung kelihatan. Sangat rapi di spreadsheet. Saat berhadapan dengan manusia, sering justru miskin rasa.
Dalam teori hubungan kerja, ada konsep Leader-Member Exchange, yaitu teori yang menjelaskan kualitas hubungan antara dua pihak dalam kerja, terutama atasan dan bawahan, berdasarkan kepercayaan, respek, dan dukungan timbal balik. Intinya sederhana. Hubungan kerja yang sehat biasanya ditopang oleh rasa percaya, penghargaan, dan kesediaan saling menopang. Kalau kualitas hubungan ini tinggi, kerja sama cenderung lebih lancar. Kalau kualitasnya rendah, banyak hal menjadi kaku, mahal, dan gampang salah paham.
Itulah sebabnya disukai di kantor tidak bisa dipisahkan begitu saja dari kualitas kerja. Orang yang terasa aman dan menghargai lawan bicara biasanya lebih mudah diajak kolaborasi. Sebaliknya, orang yang interaksinya kering, berat, dan sepihak membuat orang lain menahan diri. Mereka mungkin tetap diakui kompeten. Hanya saja, orang tidak terlalu ingin bergerak dekat.
Di titik ini, ada pelajaran penting dari Harvard behavioral scientist Professor Alison Wood Brooks. Behavioral scientist berarti ilmuwan yang meneliti perilaku manusia, termasuk cara orang berpikir, merasakan, dan berinteraksi. Dalam riset dan tulisannya tentang percakapan, ia menekankan bahwa percakapan bukan sekadar basa-basi. Percakapan adalah perilaku manusia yang kompleks dan punya dampak besar. Cara orang berbicara, mendengar, dan merespons ikut memengaruhi koneksi, koordinasi, bahkan hasil sosial yang lebih luas. Artinya, perubahan kecil dalam cara kita berkomunikasi bisa memberi efek besar pada hubungan kerja.
Kalau disederhanakan, orang yang terlalu transaksional sering membuat lawan bicara merasa dipakai, bukan diajak. Hubungan jadi mirip lorong tol. Masuk, lewat, selesai. Tidak ada rasa bahwa “saya benar-benar dilihat”. Tidak ada tanda bahwa interaksi ini punya nilai selain fungsi praktisnya. Lama-lama orang seperti ini kehilangan sesuatu yang penting, yaitu goodwill. Goodwill berarti cadangan niat baik, toleransi, dan kepercayaan yang membuat orang tetap terbuka kepada kita walau ada kekurangan kecil. Kalau goodwill tipis, sedikit kesalahan bisa terasa besar. Sedikit perbedaan bisa terasa kasar. Bahkan ide bagus pun bisa jatuh di ruangan yang sudah lebih dulu dingin.
Orang tidak menjauh karena Anda berbeda pendapat, tetapi karena Anda membuat mereka defensif
Banyak orang cerdas salah membaca bagian ini. Mereka merasa ditolak karena gagasannya kuat. Mereka merasa dijauhi karena terlalu jujur. Mereka merasa ketegasan mereka terlalu sulit diterima. Kadang itu memang mungkin. Namun cukup sering masalahnya bukan isi gagasan, melainkan cara gagasan itu masuk ke ruangan.
Dalam psikologi organisasi, yaitu kajian tentang perilaku manusia di tempat kerja, ada perbedaan antara konflik tugas dan konflik hubungan. Konflik tugas berarti perbedaan pendapat soal isi pekerjaan, strategi, atau keputusan. Konflik hubungan berarti ketegangan yang sudah menyentuh rasa tidak suka, tersinggung, atau benturan pribadi. Dua hal ini tidak sama. Orang bisa berbeda pendapat soal kerja tanpa saling bermusuhan. Namun ketika perbedaan itu dibungkus dengan nada merendahkan, serangan personal, atau cara bicara yang membuat lawan bicara terpojok, konflik tugas cepat berubah menjadi konflik hubungan. Setelah itu, kerja sama biasanya ikut retak.
Di kantor, kesalahan ini sering muncul dalam bentuk yang sangat biasa. Orang belum selesai bicara, kita sudah menyiapkan bantahan. Belum benar-benar paham sudut pandangnya, kita sudah ingin menang. Kita membuka dengan kalimat seperti “saya tidak setuju”, “itu tidak masuk akal”, atau “bukan begitu”. Dari sisi ego, ini terasa tegas. Dari sisi hubungan, ini sering membuat lawan bicara langsung menegang.
Padahal ada perbedaan besar antara membantah isi dan memvalidasi manusia di balik isi itu. Memvalidasi berarti mengakui bahwa perasaan, alasan, atau sudut pandang orang lain bisa dipahami tanpa harus otomatis disetujui. Anda bisa mengatakan, “Saya paham kenapa Anda melihatnya seperti itu,” lalu baru masuk ke argumen Anda. Pendekatan ini bukan tanda lemah. Justru ini bentuk kontrol diri. Orang lebih mungkin bertahan dalam percakapan kalau mereka merasa didengar. Begitu rasa aman naik, pertahanan sedikit turun. Begitu pertahanan turun, peluang Anda untuk benar-benar didengar ikut naik.
Kalau Anda sering merasa suasana selalu memburuk saat berbeda pendapat, jangan buru-buru menyimpulkan bahwa Anda terlalu benar untuk lingkungan itu. Bisa jadi masalahnya lebih sederhana. Mungkin Anda terdengar terlalu mengancam. Mungkin perbedaan pendapat yang Anda bawa selalu masuk dengan suhu yang terlalu tinggi. Di dunia kerja, orang tidak selalu lari dari ide yang keras. Sering kali mereka lari dari cara penyampaiannya.
Orang yang disukai bukan selalu yang paling vokal, melainkan yang paling berguna bagi alur bersama
Ada mitos lama di kantor bahwa siapa yang paling banyak bicara adalah siapa yang paling bernilai. Kenyataannya tidak sesederhana itu. Dalam kelompok kerja, nilai seseorang tidak selalu datang dari volume suara. Kadang justru datang dari kemampuannya membuat ruangan bergerak maju.
Ada orang yang bicara sedikit, tetapi ketika mereka bicara, semua orang mendengarkan. Ada juga orang yang bicara banyak sekali, tetapi setiap kali mereka mulai, ruangan diam karena lelah, bukan karena hormat.
Hubungan kerja yang efektif sangat dipengaruhi oleh kualitas hubungan interpersonal. Interpersonal berarti berkaitan dengan hubungan antarorang. Dalam praktik sehari-hari, ini berarti kontribusi sosial bukan aksesori tambahan di samping tugas. Ia bagian dari cara kerja kelompok itu sendiri. Orang yang peka pada ritme grup, tahu kapan bicara, kapan menahan diri, kapan merangkum, dan kapan mendorong keputusan biasanya lebih disukai sekaligus lebih berguna.
Di sisi lain, ada orang yang selalu butuh airtime. Mereka memaksa topiknya sendiri. Mereka tidak bisa membaca kapan grup ingin bergerak ke hal lain. Mereka merasa sedang aktif berkontribusi, padahal yang dirasakan orang lain justru gesekan. Koordinasi menjadi lebih berat. Rapat terasa lebih panjang. Fokus ruangan buyar sedikit demi sedikit.
Kalau mau jujur, banyak orang tidak disukai di tempat kerja bukan karena karakternya buruk, melainkan karena mereka membuat kerja bersama terasa lebih mahal. Mereka menambah beban ritme. Mereka mengambil terlalu banyak ruang. Mereka tidak membantu alur bersama bergerak lebih baik. Di titik tertentu, orang mulai menjaga jarak bukan karena benci, tetapi karena capek.
Sebagian orang tampak dingin bukan karena arogan, tetapi karena cemas dan salah mengelola impresi
Bagian ini penting, karena tidak semua orang yang tampak dingin sebenarnya sombong. Tidak semua yang kaku itu angkuh. Banyak yang sebenarnya cemas. Mereka terlalu sadar diri. Mereka terlalu sibuk mengatur wajah, nada suara, posisi tubuh, dan kalimat yang keluar. Akibatnya, energi mental habis untuk bertahan, bukan untuk hadir.
Masalahnya, orang lain tidak bisa membaca isi kepala kita. Mereka hanya melihat perilaku. Saat perilaku yang tampak adalah ketegangan, kekakuan, atau jarak, orang akan menafsirkannya dengan cara mereka sendiri. Karena impresi awal terbentuk cepat, kecemasan yang tidak dikelola mudah diterjemahkan sebagai dingin, tidak tertarik, terlalu serius, atau sulit didekati.
Di sini ada kabar baik. Kehangatan tidak harus identik dengan kelucuan besar atau karisma panggung. Karisma berarti daya tarik personal yang membuat orang mudah tertarik atau terpengaruh. Kehangatan bisa dilatih dengan cara yang jauh lebih sederhana. Misalnya mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh, memberi pujian yang wajar, mengingat detail kecil yang pernah diceritakan orang lain, atau menunjukkan bahwa kita benar-benar mendengar.
Ini penting karena banyak orang memakai standar yang keliru. Mereka mengira cara agar disukai teman kantor adalah menjadi entertainer, menjadi pusat ruangan, atau tampil sangat memesona. Sering kali tidak begitu. Yang lebih dibutuhkan justru kehadiran yang membuat orang merasa diperhatikan. Tidak heboh. Tidak berlebihan. Tetapi nyata.
Dalam lingkungan kerja, itu sudah sangat bernilai. Anda tidak harus berubah menjadi sosok flamboyan. Flamboyan berarti sangat mencolok, penuh gaya, dan suka menarik perhatian. Anda hanya perlu berhenti mengirim sinyal yang salah, lalu pelan-pelan mengirim sinyal yang lebih manusiawi. Sedikit perhatian. Sedikit follow-up, yaitu pertanyaan atau respons lanjutan yang menunjukkan kita benar-benar peduli. Sedikit keberanian untuk bertanya lebih baik. Sedikit usaha untuk mengingat orang lain sebagai manusia, bukan sekadar fungsi kerja.
Cara agar disukai rekan kerja bukan dengan pencitraan murahan
Kalau Anda sadar hubungan Anda di kantor tidak cukup hangat, pertanyaan berikutnya sederhana, yaitu apa yang perlu diubah. Jawabannya bukan pencitraan murahan. Bukan senyum palsu. Bukan basa-basi yang dibuat-buat. Dan jelas bukan menjadi orang yang menyenangkan semua pihak. Itu melelahkan dan biasanya tidak tahan lama.
Perubahan yang lebih berguna adalah memperbaiki pengalaman orang lain saat berhadapan dengan kita. Coba mulai dari pertanyaan yang sederhana sekali. Setelah berbicara dengan saya, orang biasanya merasa lebih aman atau malah lebih tegang? Mereka merasa lebih jelas atau lebih defensif? Defensif berarti spontan menutup diri, berjaga-jaga, atau sibuk membela posisi sendiri karena merasa terancam. Mereka merasa didengar atau cuma menunggu saya selesai bicara? Kehadiran saya membuat interaksi lebih ringan atau justru lebih berat?
Pertanyaan-pertanyaan ini lebih jujur daripada sekadar bertanya kenapa orang menjauh di kantor. Ia memaksa kita melihat pengalaman orang lain, bukan hanya niat kita sendiri.
Secara ilmiah, arah ini masuk akal. Penelitian tentang interpersonal affect in task-related ties menunjukkan bahwa perasaan positif atau negatif terhadap seseorang ikut memengaruhi hubungan yang berbasis tugas dalam organisasi. Affect berarti nada perasaan atau emosi yang kita bawa terhadap seseorang, misalnya suka, tidak suka, nyaman, atau jengkel. Task-related ties berarti hubungan kerja yang terbentuk karena orang perlu menyelesaikan tugas bersama. Jadi, kerja yang tampak rasional pun tetap dipengaruhi oleh rasa. Kompetensi tetap penting, tentu. Namun rasa suka atau tidak suka sering menentukan apakah kompetensi itu benar-benar mendapat jalan.
Secara praktis, cara memperbaiki hubungan di tempat kerja sering tidak serumit yang dibayangkan. Bertanyalah lebih banyak, bukan untuk basa-basi, tetapi untuk memahami. Dengarkan untuk mengerti, bukan untuk menyiapkan serangan balik. Validasi lebih dulu sebelum masuk ke perbedaan pendapat. Jaga ritme kontribusi Anda dalam rapat. Jangan memonopoli ruang kalau nilai yang dibawa tidak sebanding. Tunjukkan kehangatan tanpa kehilangan ketegasan. Tunjukkan kompetensi tanpa membuat orang merasa direndahkan.
Pada akhirnya, disukai di dunia kerja bukan berarti menjadi penjilat, badut kantor, atau orang yang selalu lunak. Sama sekali bukan. Disukai adalah posisi yang strategis. Ketika orang merasa aman dengan kehadiran kita, percaya pada kapasitas kita, dan tidak perlu bersiap tempur setiap kali kita bicara, banyak hal ikut berubah. Percakapan jadi lebih terbuka. Resistensi menurun. Kesalahan lebih mudah dimaafkan. Ide lebih mudah masuk. Kerja sama lebih mudah lahir. Karier pun sering bergerak lebih mulus. Bukan karena dunia mendadak adil, tetapi karena kita akhirnya paham satu hal yang sangat menentukan. Di kantor, orang tidak hanya menilai apa yang kita kerjakan. Mereka juga menilai bagaimana rasanya bekerja dengan kita.
Referensi
- Top Harvard Professor: The Psychology Of Why People Don’t Like You!
- Fiske, Susan T. – Stereotype Content: Warmth and Competence Endure
- An action-observation method for studying social perception: a mini-review
- Relational Dynamics of Leadership: Problems and Prospects
- Yeomans, Michael & Brooks, Alison Wood – A Practical Guide to Conversation Research
Kutip artikel ini:
Kontributor KuBisnis, 2026, https://www.kubisnis.com/kenapa-saya-tidak-disukai-di-dunia-kerja-dan-cara-mengubahnya/ (diakses pada 17 Jul 2026).
Artikel ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda bisa mengirimkan saran pada KuBisnis di akun fb/twitter/google kami di @KuBisnis.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan artikel.




