Kami mendeteksi Anda menggunakan program ad-blocker. Situs ini menggunakan advertisement agar Anda dapat menggunakan situs ini dengan gratis. Mohon tambahkan www.kubisnis.com ke dalam whitelist ad-blocker Anda, atau bantu kami dengan donasi di bagian bawah situs ini. Trims :)

Bisnis waralaba (franchise) ternyata tak semanis janjinya

Laman ini adalah tampilan standar. Akses mode baca di: Bisnis waralaba (franchise) ternyata tak semanis janjinya

Sudah sejak lama bisnis waralaba (franchise) menjamur di negeri ini. Mulai dari yang harganya puluhan juta sampai miliaran rupiah. Tapi apakah bisnis waralaba memang menguntungkan sesuai dengan janjinya? Mari kita ulas, tapi terlebih dahulu kita pahami dulu apa itu bisnis waralaba.

Bisnis waralaba menjual semua hal yang berhubungan dengan operasional bisnis, mulai dari merek, peralatan, perlengkapan pemasaran, bahan baku, dan pelatihan. Sistem pembagian keuntungan pun bervariasi, ada yang perjanjian pembelian bahan baku, pembagian laba kotor, maupun keduanya. Sebelum calon rekanan bergabung, dia akan disuguhi dengan rencana bisnis yang lengkap dengan proyeksi penjualan. Sangat menggiurkan bukan? Anda bisa langsung memiliki bisnis tanpa repot-repot mulai dari nol. Tinggal beli paket waralaba, dan tidak berapa lama, lapak anda sudah bisa beroperasi. Namun, terkadang kenyataan tidak semanis rencana bisnis, mari kita tengok apa yang mungkin terjadi dalam bisnis ini.

ilustrasi-waralaba
Oleh StockSnap | Pixabay

Biaya setup yang terlalu mahal

Dalam memulai bisnis, penggunaan dana untuk modal yang tidak efisien dapat berpengaruh apakah bisnis layak dijalankan ataukah tidak. Misalnya proyeksi keuntungan 100 juta per tahun tidaklah terlalu menarik apabila biaya setupnya sebesar satu miliar, atau dengan kata lain mencapai break-even (BEP) setelah 10 tahun. Ingat juga dalam proyeksi keuangan kadang tidaklah berjalan sesuai rencana yang mungkin BEP bisa jadi mundur beberapa tahun. Semakin lama BEP mundur, maka risiko bisnis semakin besar karena perubahan tren atau selera konsumen yang bisa memengaruhi penjualan.

Apabila kita membangun bisnis dari nol, maka pembelian aset adalah sesuai dengan harga pasar, atau bahkan lebih murah apabila kita memiliki rekanan-rekanan supplier. Sedangkan pada bisnis waralaba, pembelian peralatan dan perlengkapan ke franchisor kadang lebih tinggi, atau dengan kata lain, si franchisor mengambil keuntungan atas pembelian aset-aset untuk kebutuhan usaha. Hal ini tentu saja berakibat biaya setup menjadi mahal dan tidak efisien. Terlebih lagi, sulit untuk menilai harga suatu sistem bisnis seperti ini karena tidak ada jaminan bisnis yang dibangun menggunakan franchise tersebut bisa sukses.

Terkesan hanya jualan sistem, bukan produk

Bisnis waralaba yang saya jumpai kebanyakan hanya menguntungkan si franchisor karena risiko bisnis (hampir) semuanya ditanggung franchisee alias tidak ada tanggung jawab dari franchisor apabila lapak si franchisee tutup. Seharusnya ketika misalnya Pak Agus membeli paket franchise dari PT XYZ dan telah menjalankan semua instruksi dari PT XYZ, apabila bisnisnya bangkrut, paling tidak ada dana yang bisa dikembalikan. Istilahnya “kalau senang semua senang, kalau rugi KAMU yang susah.” Karena minimnya moral hazard ini, kebanyakan sekarang franchisor lebih fokus ke bagaimana cara menjual waralabanya agar bisa laku, bukan menjual produk-produknya andalan gerainya seperti kopi susu, pizza, ayam goreng, steak, dan lain sebagainya.

Waralaba yang berfokus untuk menjual paket waralabanya dan bukan produk gerainya akan lebih termotivasi untuk melakukan praktik bisnis yang tidak etis, karena anda (calon investor) adalah konsumennya. Mereka akan cenderung untuk menggunakan strategi “bull shit” untuk menarik calon investor membeli paket waralaba. Mereka tahu bahwa keinginan untuk menjadi kaya akan sangat memengaruhi bawah sadar seseorang untuk mengambil keputusan bisnis. Ketika investor tersebut gagal, alih-alih memperbaiki praktik bisnisnya, mereka dengan mudah berkelit dengan alasan anda tidak kompeten, atau memang nasib anda sedang buruk.

Proyeksi keuangan yang meleset

Dampak dari rencana bisnis yang dibuat dengan tujuan untuk menarik calon investor tentu saja akan menjadi TERLALU OPTIMIS. Akibatnya proyeksi keuangan yang dibuat akan sangat jauh dari kenyataan. Saya pernah iseng-iseng menilik beberapa proposal waralaba yang ditawarkan pada saya, dan seperti dugaan saya, perhitungan keuangannya terlalu optimis dan bahkan terkesan menipu apabila dinilai menggunakan standar saya. Saya tidak mengatakan semuanya seperti itu, namun hanya spesifik pada beberapa proposal yang pernah saya baca. Memang saya tahu melakukan riset pasar yang proper itu tidak mudah, namun akankah lebih baik apabila rencana bisnis yang dibuat menggunakan skenario yang netral.

Apabila anda mendapati proposal bisnis waralaba, saran saya cobalah melakukan riset pasar mandiri sebagai perbandingan. Kunjungi lapak yang mirip atau bergerak pada bisnis yang sama. Tanyakan berapa unit produk yang bisa dijual tiap bulan, berapa harga peralatan, dan berapa gaji karyawan. Setelah mengetahui data tersebut, bandingkanlah dengan proposal yang anda terima, apakah masuk akal ataukah tidak. Tanyakan juga pada orang-orang yang membeli paket waralaba tersebut tentang apa saja yang menjadi perhatian mereka. Mereka pada umumnya sangat welcome dan jujur ketika anda datang dengan maksud baik, dengan mengatakan dengan jujur maksud anda.

Akhir kata memang banyak yang sukses dengan ikut bisnis waralaba, tapi banyak juga yang bangkrut. Saya membuat artikel ini dengan tujuan agar anda kritis dan memiliki pengetahuan yang holistik dalam memilih franchise yang hendak anda beli. Lakukanlah riset mandiri untuk menentukan apakah bisnis waralaba yang dipilih kemahalan atau tidak dengan cara, menghitung mandiri semua perlengkapan, peralatan, dan bahan baku menggunakan harga pasar. Sisa dari nilai tersebut adalah harga yang harus dibayar untuk sebuah sistem yang belum tentu menghasilkan keuntungan.

like-fb-kubisnis
Apabila Anda menyukai artikel KuBisnis, bantu KuBisnis untuk tumbuh di www.facebook.com/KuBisnis/

Kutip artikel ini:
Kontributor KuBisnis, 2020, "Bisnis waralaba (franchise) ternyata tak semanis janjinya," Artikel KuBisnis, https://www.kubisnis.com/bisnis-waralaba-franchise-ternyata-tak-semanis-janjinya/ (diakses pada 05 Jul 2020).

Artikel ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda bisa mengirimkan saran pada KuBisnis di akun fb/twitter/google kami di @KuBisnis.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan artikel.