Kami mendeteksi Anda menggunakan program ad-blocker. Situs ini menggunakan advertisement agar Anda dapat menggunakan situs ini dengan gratis. Mohon tambahkan www.kubisnis.com ke dalam whitelist ad-blocker Anda, atau bantu kami dengan donasi di bagian bawah situs ini. Trims :)

Apakah berjudi bisa membuat kaya? | Fakta tentang judi

Laman ini adalah tampilan standar. Akses mode baca di: Apakah berjudi bisa membuat kaya? | Fakta tentang judi

Anda tentu pernah mendengar tentang kisah seseorang yang mendapat uang yang banyak dari berjudi. Pertanyaan yang kemudian muncul adalah apakah dengan berjudi kita bisa menjadi kaya? Mari kita bahas hal ini dari sudut pandang ilmu pengetahuan, bukan moralitas, hukum, maupun agama, agar kita tahu mengapa judi pada dasarnya hanya memperkaya bandar atau casino. Namun sebelum itu, kita harus tahu apa sih sebenarnya permainan judi itu.

ilustrasi-judi
Oleh stokpic | Pixabay

Permainan judi adalah permainan yang pemenangnya ditentukan (sebagian besar) berdasarkan peruntungan saja, dengan mempertaruhkan uang untuk mendapatkan hadiah uang yang lebih besar. Meskipun ada unsur keahlian dalam permainan tersebut, namun apabila unsur untung-untungannya lebih besar, permainan tersebut masih dikategorikan sebagai perjudian.[1]

Permainan judi dirancang agar pemainnya kalah menggunakan House Edge (HE)

Dalam judi, bandar selalu menang menggunakan konsep matematis yang bernama House Edge (HE),[2] yang berarti pemain akan selalu kehilangan uang dalam jumlah sedikit setiap kali bertaruh. Persentase HE ini bervariasi antara 5%-15% sehingga dalam setiap 10.000 rupiah yang dipertaruhkan, hanya 8.500-9.500 rupiah saja yang dimasukkan ke dalam “pot” hadiah dan sisanya akan masuk ke pihak pengelola. Misalnya pada permainan lotere yang diikuti oleh 20 orang yang sama-sama bertaruh 100.000 rupiah, hadiah pemenang hanya sebesar 1.700.000 rupiah. Nah, karena peluang kemenangan adalah 5% maka sebenarnya nilai hadiah tersebut hanyalah 5% x Rp. 1.700.000,- = Rp. 85.000. Maka dari itu, taruhan ini merupakan taruhan yang merugikan karena hadiah tidak sebanding dengan risiko ketika peluang dikalikan dengan hadiah jumlahnya lebih kecil dari uang taruhan. Dalam hitungan matematika, seketika penjudi bertaruh, ia akan langsung kehilangan 15.000 rupiah. Selain menyunat nilai hadiah, HE juga bisa menyunat peluang kemenangan, atau kombinasi keduanya, tergantung si bandar.

Semua permainan judi menggunakan konsep HE ini sehingga semakin banyak si penjudi bermain, maka si penjudi tersebut akan semakin miskin. Meskipun demikian, orang-orang awam biasanya menyanggah dengan alasan bisa saja mereka beruntung dan mendapatkan 1.700.000 rupiah dari 100.000 rupiah yang mereka keluarkan. Untungnya kan Rp. 1.700.000 – Rp. 100.000 = Rp. 1.600.000,- Benarkah demikian? Mari kita ulas pada bahasan berikutnya.

Permainan judi dapat membuat kecanduan

Berdasarkan contoh sebelumnya, memang benar apabila si penjudi sangat beruntung, yaitu hanya bertaruh satu kali, langsung menang, dan tidak kembali lagi berjudi, maka ia akan memperoleh keuntungan. Namun sayang sekali hal ini jarang sekali ditemui di dunia nyata. Kemungkinan besar yang terjadi adalah ia telah bertaruh berulang kali, atau setelah menang ia akan bertaruh kembali lalu menghabiskan semua uangnya. Si pemenang, yang tidak sadar bahwa ia sudah beruntung, akan berpikir kalau pada taruhan berikutnya ia akan menang lagi, padahal ingat bahwa kemungkinan ia menang hanya 5% atau secara statistik satu kali menang dari 20 kali percobaan.

Bermain judi akan merangsang hormon dopamine[3] ke otak yang akan membuat si penjudi merasa “enak”, sama seperti ketika merokok atau meminum alkohol. Bahkan sama ketika kita mendapatkan “like” di sosial media atau ketika bermain video game, semua hal tersebut bisa membuat kita ketagihan. Permasalahannya adalah untuk memicu perasaan “enak” tersebut dibutuhkan dosis dopamine yang lebih banyak seiring berjalannya waktu. Sehingga misalnya pada awalnya si penjudi akan dapat puas dengan berjudi satu kali seminggu, lama kelamaan ia akan berjudi setiap hari. Ingat bahwa setiap kali berjudi ia akan langsung kehilangan uang karena HE sehingga bisa dipastikan ia akan menjadi miskin.

Ilusi keahlian

Dalam judi bola misalnya, banyak orang mengira dengan mereka serius menganalisis pertandingan sepakbola, mereka bisa menjadi ahli dan pada akhirnya bisa sering menang taruhan. Sayang sekali hal ini tidak benar. Sebab:

  • Pertandingan yang “sudah pasti menang”, misalnya antara tim terkuat melawan tim terlemah, biasanya memiliki pengembalian yang tipis. Misalnya 1.1x yang artinya apabila seseorang bertaruh 100.000 rupiah dan menang, ia hanya akan mendapatkan 10.000 rupiah keuntungan.
  • Tidak jarang pertandingan yang “sudah pasti menang” tersebut berujung pada hasil imbang atau bahkan kalah, apalagi terhadap tim yang berimbang kualitasnya. Kata pepatah bola itu bundar yang artinya semua hal bisa terjadi dalam pertandingan sepakbola. Alih-alih mendapatkan keuntungan yang tipis, bisa jadi si penjudi malah kehilangan uang banyak.
  • Pertandingan olahraga tidak hanya sebatas perhitungan di atas kertas, terlalu banyak variabel yang tidak pasti, yang membuat hasilnya tidak bisa diprediksi meskipun anda sekelas Jose Mourinho. Coba simak prediksi-prediksi beliau seringkali meleset ketika menjadi komentator.

Permainan kartu pun juga mirip demikian, seahli apapun si pemain, ia masih akan kalah kalau sedang sial dapat kartu yang jelek.

Akhir kata, saya hanya mengungkap fakta tentang kemungkinan anda bisa menjadi kaya dari berjudi adalah nyaris tidak ada. Kembali lagi adalah hak asasi anda untuk tetap bermain atau berhenti berjudi. Jadi pastikanlah motivasi anda berjudi adalah bukan untuk mencari kekayaan, karena cara paling tepat untuk menjadi kaya adalah dengan berbisnis dan bekerja keras.

like-fb-kubisnis
Apabila Anda menyukai artikel KuBisnis, bantu KuBisnis untuk tumbuh di www.facebook.com/KuBisnis/

Referensi:

Kutip artikel ini:
Kontributor KuBisnis, 2020, "Apakah berjudi bisa membuat kaya? | Fakta tentang judi," Artikel KuBisnis, https://www.kubisnis.com/apakah-judi-bisa-membuat-kaya/ (diakses pada 22 Oct 2020).

Artikel ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda bisa mengirimkan saran pada KuBisnis di akun fb/twitter/google kami di @KuBisnis.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan artikel.