Cara Mengatasi Rasa Takut Ditolak


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Cara Mengatasi Rasa Takut Ditolak (untuk menghemat pemakaian data).

Seorang entrepreneur pasti akan mengalami penolakan (bahkan banyak) semasa hidupnya, sehingga ia sebaiknya siap sedia dengan penolakan yang pasti akan datang. Penolakan dapat membuat seseorang tidak bersemangat, rendah diri, ketakutan, dan bahkan putus asa. Untuk itu, sangat penting bagi wirausahawan untuk tahu bagaimana cara mengatasi rasa takut untuk ditolak.

Daftar isi

Artikel ini membahas cara-cara mengatasi rasa takut ditolak, yaitu dengan mengetahui bahwa: (1) Ditolak atau diterima hanya masalah peluang; (2) Rasa sakit akibat penolakan hanya terjadi di awal; (3) Bukan anda yang ditolak, tapi yang anda tawarkan; dan (4) Penyesalan lebih menakutkan daripada rasa takut ditolak.

Ditolak atau Diterima Hanya Masalah Peluang

Ditolak atau diterima hanyalah perhitungan matematika. Apabila seseorang menawarkan sesuatu pada 100 orang, maka paling tidak 10 orang akan menerima apa yang ia tawarkan. Peluang ini akan meningkat seiring dengan semakin ahlinya pendekatan yang ia lakukan serta kemampuannya membaca audiens.

Untuk itu, seorang entrepreneur tidak perlu takut dengan penolakan, ia hanya perlu melakukan pendekatan kepada lebih banyak orang. Mungkin memang pada awalnya ia akan selalu ditolak, tetapi cepat atau lambat penerimaan akan datang. Dalam berbisnis, seseorang tidak mungkin bisa diterima oleh semua orang. Akan tetapi, ia dapat yakin bahwa yang akan menerima dirinya adalah orang-orang yang akan memberikan manfaat bagi bisnisnya.

Alasan mengapa peluang merupakan hal yang mendasari penerimaan atau penolakan adalah karena tidak semua orang adalah audiens kita. Mereka memiliki preferensi dan ekspektasi yang berbeda terhadap suatu produk barang atau jasa. Mengetahui hal ini, kita dapat meningkatkan peluang penerimaan dengan menawarkan pada orang-orang yang merupalan audiens kita.

Rasa Sakit Akibat Penolakan Hanya Terjadi di Awal

Memang betul ketika kita ditolak, kita akan merasa sakit hati, rendah diri, tidak percaya diri, dll. Tetapi hal ini hanya akan terasa di awal. Setelah melewati sejumlah penolakan tertentu, seseorang tidak lagi merasa sakit, takut, dan malu. Ia tidak lagi sensitif terhadap penolakan. Ahli mengatakan bahwa rata-rata setelah lima sampai tujuh kali penolakan, seseorang sudah tidak lagi sensitif terhadap penolakan.[1]

Mengapa hal ini bisa terjadi? Ini disebabkan karena sebenarnya seseorang merasa takut terhadap sesuatu yang tidak terjadi atau imajinasi berlebihan. Ia tadinya takut kalau penolakan itu kasar, mempermalukan, menyakitkan, dll., tetapi pada kenyataannya itu jarang sekali terjadi. Umumnya mereka yang menolak akan bersikap sopan dan biasa saja, dan kehidupan terus berjalan seperti biasa. Setelah lima sampai tujuh kali penolakan, maka kita baru merasa sadar bahwa kita selama ini hanya bersikap paranoid.

Menghilangkan perasaan sensitif ini sangatlah penting untuk seorang pengusaha. Hal ini akan membuka peluang bisnis baru yang sebelumnya tidak pernah ia pikirkan. Bahkan, ia akan terkejut akan penerimaan yang sebelumnya tidak pernah ia harapkan. Jia Jiang membuktikan hal ini dalam proyeknya. Ia mencari 100 kali penolakan dan menyadari bahwa rasa takutnya tidak berdasar.[3]

like-fb-kubisnis

Apabila Anda menyukai artikel KuBisnis, bantu KuBisnis untuk tumbuh di www.facebook.com/KuBisnis/

Bukan Anda yang Ditolak, Tapi yang Anda Tawarkan

Seorang wirausahawan yang hendak menawarkan bisnis, produk barang, atau jasanya, hendaklah tidak terlalu menanggapi penolakan secara personal. Ketakutan yang ia rasakan sebenarnya lebih banyak karena takut pribadinya yang ditolak. Ia seharusnya menyadari bahwa setiap orang memiliki kebutuhan dan keinginan yang berbeda, sehingga apa yang ia tawarkan tidak selalu mereka terima. Senada dengan poin pertama, apabila ia menawarkan pada cukup banyak orang, maka pasti akan ada orang yang membutuhkan atau menginginkan hal yang ia tawarkan.

Apabila kita ditolak janganlah kita merasa gagal, karena umumnya yang tidak cocok adalah pada apa yang kita tawarkan. Seseorang boleh saja sangat hebat berbicara, memiliki kesan pertama yang baik, dan pandai mendekati prospek; tetapi apabila ia menawarkan sesuatu yang tidak dibutuhkan atau diinginkan, maka ia akan gagal.

ilustrasi-penolakan

Ilustrasi penolakan | Gambar oleh Max Pixel adalah tidak berlisensi (domain publik)

Penyesalan Lebih Menakutkan daripada Rasa Takut Ditolak

Apa hal paling buruk dari penolakan? Paling-paling seseorang akan merasa malu atau sakit hati. Hal ini tidaklah sebanding apabila ia melewatkan kesempatan untuk berhasil.[2] Rasa penyesalan akibat melewatkan sesuatu karena takut akan jauh lebih berat daripada penolakan itu sendiri. Apalagi ia masih memiliki peluang yang cukup besar untuk diterima. Maka dari itu sebelum seorang pebisnis menawarkan sesuatu, ada baiknya ia membayangkan penyesalan di masa depan akibat tidak mengambil aksi atas sebuah kesempatan.

Artikel ini sebenarnya tidak hanya dapat diaplikasikan untuk bisnis, tetapi dapat untuk kehidupan sehari-hari kita. Hubungan asmara, persahabatan, dan dalam pekerjaan juga kerap kali melibatkan kita untuk menawarkan sesuatu. Sebagai seorang manusia, rasa takut memang akan muncul. Penolakan bukanlah hal yang luar biasa yang patut kita takutkan, melainkan hal yang biasa saja dalam kehidupan. Apalagi melalui penjelasan diatas, kita sudah tahu bagaimana cara mengantisipasi rasa takut tersebut.

Referensi

Kutip artikel ini:
Kontributor KuBisnis, 2017, "Cara Mengatasi Rasa Takut Ditolak," Artikel KuBisnis, https://www.kubisnis.com/cara-mengatasi-rasa-takut-ditolak/ (diakses pada 25 May 2018).

Artikel Terkait:

Artikel ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul artikel yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada KuBisnis di akun fb/twitter/google kami di @KuBisnis.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan artikel.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.