Mengenali Apa Itu Bitcoin dan Teknologi Bitcoin


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Mengenali Apa Itu Bitcoin dan Teknologi Bitcoin (untuk menghemat pemakaian data).

Bitcoin akhir-akhir ini menjadi buah bibir bagi banyak orang karena harganya yang melonjak tinggi. Sampai saat artikel ini dibuat (23 Agustus 2017) harga satu bitcoin tercatat mencapai 4.200-an USD atau sekitar 56 jutaan rupiah. Lalu apa sebenarnya bitcoin itu? mengapa harga satu bitcoin bisa sangat mahal? Apa teknologi yang mendasari bitcoin? Pertanyaan inilah yang akan coba penulis kupas pada artikel ini.

Daftar isi

Artikel ini membahas: (1) Apa itu Bitcoin?; (2) Sejarah Perkembangan Bitcoin; dan (3) Pro dan Kontra terhadap Bitcoin.

Apa Itu Bitcoin?

Secara umum, bitcoin adalah mata uang digital yang menggunakan teknik kriptografi untuk mengamankan transaksi dan mengendalikan penerbitan bitcoin baru (disebut dengan cryptocurrency).[1] Bitcoin ini sepenuhnya virtual, tidak memiliki wujud fisik seperti mata uang rupiah, sehingga kita tidak dapat seperti apa bentuk bitcoin di dunia nyata. Kepemilikan seseorang terhadap bitcoin tercatat dalam buku besar (ledger) yang mencatat semua transaksi bitcoin, bahkan sejak dari transaksi pertama kali. Pengguna bitcoin dapat menggunakan bitcoin sama seperti mata uang konvensional, termasuk membeli atau menjual barang dan jasa, mengirimkan uang ke orang lain atau organisasi, ataupun membayar tagihan. Bitcoin dapat dijual menjadi mata uang konvensional ataupun mata uang digital lain (disebut altcoin), dan sebaliknya bitcoin dapat dibeli dengan mata uang konvensional ataupun altcoin lainnya, sama seperti hubungan USD-IDR, USD-JPY, dan sebagainya.

Setidaknya terdapat tiga bagian utama dari bitcoin, yaitu:[2][3]
1. Decentralized peer-to-peer network, disebut juga dengan bitcoin protocol. Sistem jaringan peer-to-peer terdesentralisasi inilah yang membuat bitcoin unik dari sistem keuangan lain yang cenderung tersentralisasi. Dalam bitcoin tidak ada server utama yang menjadi pusat pengendali bitcoin, sehingga tidak dibutuhkan adanya bank sentral yang mencetak uang baru ataupun melakukan fungsi kliring transaksi. Proses mencetak bitcoin baru dan validasi transaksi dilakukan dengan mining yang dapat dilakukan oleh semua orang yang mempunyai perangkat komputer khusus tersebut.
2. Buku besar transaksi publik, disebut juga dengan blockchain. Blockchain yang merupakan rangkaian seluruh blok yang berisi sejumlah transaksi didistribusikan ke semua node dalam jaringan bitcoin, termasuk waktu, partisipan, dan jumlah bitcoin dalam transaksi. Hal ini membuat blokchain sangat tangguh terhadap serangan hacker. Untuk meretas blockchain, hacker harus meretas semua node dalam waktu bersamaan, dan ini bisa dikatakan mustahil. Integritas dan urutan kronologis dari rantai blok ini dilakukan dengan kriptografi.
3. Validasi dengan aturan konsensus, disebut juga dengan mining. Oleh karena bitcoin tidak menggunakan pihak pengendali sentral (misalnya bank sentral) dalam memproses transaksi, maka transaksi-transaksi bitcoin divalidasi di setiap node dengan menggunakan aturan konsensus terdistribusi untuk kemudian blok yang valid diikat ke dalam blockchain. Aturan ini memberlakukan urutan kronologis dalam rantai blok, melindungi netralitas jaringan, dan memungkinkan komputer yang berbeda untuk menyetujui keadaan sistem. Untuk dapat valid dikonfirmasi, transaksi harus dikemas dalam blok yang sesuai aturan kriptografi yang sangat ketat yang akan diverifikasi oleh jaringan. Aturan ini mencegah agar blok sebelumnya tidak dimodifikasi karena hal itu akan membuat semua blok sesudahnya terhapus. Pihak yang melakukan mining ini disebut miner, mereka memperoleh hadiah sejumlah bitcoin dari transaksi yang sukses divalidasi.

Sejarah Perkembangan Bitcoin

Bitcoin diciptakan pada tahun 2008 oleh seseorang yang menggunakan alias Satoshi Nakamoto melalui tulisannya yang berjudul “Bitcoin: A Peer to-Peer Electronic Cash System.” Satoshi kemudian “menghilang” dari publik pada April 2011, dan menyerahkan urusan pengembangan kode program bitcoin pada sejumlah kelompok relawan. Identitas sebenarnya orang ataupun sekelompok orang yang membuat bitcoin ini tidak diketahui, namun tidak seorangpun termasuk “Satoshi” sendiri memiliki kemampuan mengendalikan sistem bitcoin. Bitcoin beroperasi menggunakan prinsip matematika yang transparan, memiliki kode yang open source, dan sistem konsensus dari partisipan.[3]

ilustrasi-bitcoin

Ilustrasi bitcoin | Gambar oleh Jason Benjamin (flickr) adalah tidak berlisensi (domain publik)

Anonimitas pencipta bitcoin ini dapat dipahami karena alasan keamanan dan privasi. Kita tahu bahwa bitcoin menghilangkan sepenuhnya pihak bank sentral, menghilangkan batas negara, dan dapat menyeragamkan mata uang seluruh negara. Oleh karena itu, tentu saja akan banyak tekanan politis dan urusan hukum yang dapat menimpa pencipta bitcoin. Bitcoin juga bagian dari gerakan dari masyarakat dunia yang sudah tidak percaya dengan bank, pemerintah, dan uang konvensional yang beredar. Kita tahu bahwa semakin lama uang konvensional nilainya semakin berkurang karena inflasi (pemerintah terus mencetak uang baru), tidak seperti bitcoin yang jumlahnya akan tetap di angka 21 juta bitcoin pada tahun 2040. Ini membuat nilai bitcoin akan cenderung semakin mahal karena supply yang tetap, sedangkan demand bertambah.

Karena bitcoin pada dasarnya adalah kode program, maka bitcoin terus mengalami update. Terdapat dua jenis update, yaitu soft fork dan hard fork. Hard fork adalah perubahan peraturan yang menyebabkan penciptaan blok baru dianggap tidak valid oleh software lama, sedangkan pada soft fork penciptaan blok baru masih dianggap valid oleh software lama. Pada 1 Agustus 2017, bitcoin mengalami hard fork yang membuat bitcoin menjadi bercabang, yaitu bitcoin core (bitcoin, BTC) dan bitcoin cash (BCH).[4]

Pro dan Kontra terhadap Bitcoin

Apakah bitcoin memang layak dihargai setinggi sekarang? Pro dan kontra mengenai hal ini akan terus terjadi. Sebagian ahli berpendapat bahwa bitcoin tidak memiliki nilai materiil karena hanya berupa database catatan transaksi. Bitcoin tidak “dibackup” dengan cadangan devisa, emas, surat berharga, ataupun mata uang negara lain. Bitcoin hanya merupakan kode-kode pada internet sehingga sebenarnya tidak bernilai. Sedangkan sebagian ahli melihat bahwa nilai suatu hal juga dipengaruhi oleh kegunaan, kelangkaan, dan tingkat kepercayaan akan nilai hal tersebut. Misalnya lukisan Monalisa yang sangat mahal, padahal harga material pembuatan barang tersebut jauh lebih murah. Tingginya nilai bitcoin juga melambangkan kepercayaan orang-orang terhadap keamanan, dan kelangkaan dari bitcoin itu sendiri. Ketika uang konvensional mengalami inflasi, nilai bitcoin akan semakin melambung tinggi apabila masyarakat sudah semakin banyak yang mengenali dan menggunakan bitcoin. Terlebih lagi bitcoin dinilai mampu melindungi nilai pemiliknya. Bitcoin tidak dapat disita, dimusnahkan, dan tidak dapat dipengaruhi ketidakpastian kebijakan pemerintah.

Para advokat bitcoin seringkali menyatakan bahwa orang-orang sudah tidak lagi percaya akan bank. Bank-bank terus saja mencetak uang baru sehingga membuat tabungan menjadi tidak lagi berharga. Belum lagi ditambah dengan banyaknya kasus penipuan akibat tidak transparannya transaksi perbankan. Bank-bank juga dinilai menciptakan monopoli transaksi dan mengambil keuntungan yang sangat besar dari berbagai biaya dan potongan atas saldo dan transaksi yang dilakukan. Bitcoin adalah sistem transparan yang terdesentralisasi sehingga tidak membutuhkan bank untuk validasi transaksi. Semua orang dapat melakukan validasi (mining) dan mendapatkan hadiah dari upaya validasi yang mereka lakukan. Selain itu, bitcoin juga lebih efisien terutama dalam transaksi internasional karena sangat cepat, tidak memakan banyak biaya, serta tidak dipusingkan dengan masalah nilai tukar.[5]

like-fb-kubisnis

Apabila Anda menyukai artikel KuBisnis, bantu KuBisnis untuk tumbuh di www.facebook.com/KuBisnis/

Teknologi yang disruptif ini notabene juga menimbulkan masalah dalam pajak dan pengawasan. Pihak-pihak yang menolak bitcoin menyatakan bahwa bitcoin sering digunakan untuk pencucian uang, pembiayaan teroris, alat kejahatan, penghindaran pajak, dll. Nampaknya “perang” antara advokat perbankan dan advokat bitcoin masih akan berlangsung. Akankah bank akan hilang di masa depan dan bitcoin menjadi solusi transaksi keuangan, ataukah sebaliknya, ataukah keduanya dapat bersinergi? Hanya waktu yang dapat menjawabnya.

Referensi
  1. Wikipedia contributors, “Cryptocurrency,” Wikipedia, The Free Encyclopedia, https://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Cryptocurrency&oldid=796899520 (diakses 24 Augustus, 2017).
  2. Bitcoin.org contributors, “How does Bitcoin work?,” Bitcoin.org, https://bitcoin.org/en/how-it-works (diakses 24 Augustus, 2017).
  3. Antonopoulos, A., M., 2016, “Chapter 1. Introduction,” Mastering Bitcoin: Unlocking Digital Cryptocurrencies, O’Reilly Media, Inc., California, CA.
  4. Castor, A., “A Short Guide to Bitcoin Forks?,” Coindesk.com, https://www.coindesk.com/short-guide-bitcoin-forks-explained/ (diakses 24 Augustus, 2017).
  5. breakingtheset, “Why Bitcoin Terrifies Big Banks | Interview with Andreas Antonopoulos,” Youtube.com, https://www.youtube.com/watch?v=AJ1yWihBNA4 (diakses 24 Augustus, 2017).

Kutip artikel ini:
Kontributor KuBisnis, 2017, "Mengenali Apa Itu Bitcoin dan Teknologi Bitcoin," Artikel KuBisnis, https://www.kubisnis.com/mengenali-bitcoin-dan-teknologi-bitcoin/ (diakses pada 24 Sep 2018).

Artikel Terkait:

Artikel ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul artikel yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada KuBisnis di akun fb/twitter/google kami di @KuBisnis.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan artikel.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.