Menjadi Pemimpin dalam Startup


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Menjadi Pemimpin dalam Startup (untuk menghemat pemakaian data).

Keberhasilan sebuah startup sangat ditentukan oleh kualitas pemimpin startup tersebut. Hal ini disebabkan karena organisasi dalam startup masih berukuran kecil, sehingga ikatan yang terbentuk dalam startup tersebut akan sangat menentukan apakah organisasi ini dapat berfungsi dengan baik ataukah disfungsional.

Daftar isi

Artikel ini akan membahas (1) pentingnya pemimpin; (2) perbedaan penguasa dan pemimpin; dan (3) sifat yang dibutuhkan untuk menjadi pemimpin dalam startup yang diinspirasi dari Simon Sinek.

Pentingnya Pemimpin dalam Startup

Karakteristik utama dari startup adalah ketidakpastian, karena startup adalah organisasi yang masih mencari model bisnis yang tepat. Ketidakpastian tersebut adalah “bahaya” yang harus dihadapi oleh kelompok (organisasi), sehingga pemimpin harus dapat memberi rasa aman dalam kelompok tersebut. Dalam bisnis, bahaya yang harus dihadapi tidak bersifat konstan, namun bersifat variabel, seperti: inflasi, pertumbuhan ekonomi, kompetisi, teknologi baru, dll. Seorang pemimpin diharapkan dapat memitigasi bahaya dan memberi rasa aman dalam kelompoknya.

Seorang pemimpin bertugas untuk memastikan setiap anggota kelompok merasa aman dalam bekerja. Ketika semua merasa aman, setiap anggota kelompok akan dapat bekerja bersama-sama, sehingga dapat menghadapi bahaya di luar lingkaran kelompoknya dengan lebih baik. Tetapi, ketika pemimpin tidak dapat membuat anggota kelompoknya merasa aman, setiap anggota kelompok akan menghabiskan energi untuk memastikan keamanan dirinya sendiri. Hal ini akan membuat organisasi hancur ketika terdapat bahaya dari luar.

Tanggung jawab dari seorang pemimpin adalah 2 hal, yaitu menentukan siapa yang dapat masuk ke dalam lingkaran kelompok, dan menentukan seberapa besar lingkaran keamanan tersebut. Inilah mengapa sangat penting untuk memastikan sebuah startup memiliki landasan misi yang kuat, dan memilih orang-orang yang memiliki misi yang sama dengan startup tersebut. Pemimpin yang baik memperluas lingkaran keamanan sampai kepada anggota terendah dalam kelompoknya, tidak hanya pada level manajer. Apabila organisasi hanya memberikan rasa aman kepada level atas, dan tidak memperhatikan level bawah (misalnya office boy, satpam), maka organisasi tersebut akan menghadapi bahaya lebih besar.

simon-sinek

youtube.com/watch?v=ReRcHdeUG9Y | Video by 99U is licensed under Standard YouTube License

Perbedaan Penguasa dan Pemimpin

Untuk mengetahui perbedaan ini, mari kita ilustrasikan dengan kelompok serigala. Pemimpin alfa biasanya mendapatkan urutan pertama dalam makan, memilih pasangan, dan fasilitas terbaik lainnya. Akan tetapi hal ini tidak datang dengan gratis. Ketika kawanan serigala mendapatkan bahaya, anggota kawanan serigala mengharapkan serigala alfa akan berlari paling pertama menghadapi bahaya dan menyelamatkan anggota yang lain. Ilustrasi ini juga berlaku bagi startup. Sebagai founder, mungkin ia mendapatkan penghasilan yang lebih besar dibandingkan dengan karyawan, tetapi ingat bahwa ekspektasi anggota kelompok adalah rasa aman. Ketika ada bahaya, ia diharapkan akan menghadapi bahaya dan bukan malah berlari mengorbankan karyawannya. Inilah mengapa orang-orang merasa marah dengan pemecatan ketika kondisi buruk (bahaya).

Menjadi pemimpin bukan berarti lebih sedikit bekerja, malah pekerjaannya akan semakin banyak, juga ia diharapkan untuk menjaga anggota kelompoknya. Ketika ada bahaya, seorang pemimpin mungkin harus mengorbankan kepentingan dirinya demi keselamatan anggotanya. Berbeda dengan hal di atas, seorang penguasa hanya akan mementingkan dirinya sendiri dan tidak akan memberikan rasa aman dalam kelompok. Berhati-hatilah untuk memilih pemimpin dan bukan penguasa dalam menempati posisi tinggi dalam organisasi. Bertanyalah kepada anggota terendah dalam organisasi, apakah mereka merasa aman? Apabila tidak, mungkin posisi tinggi dalam organisasi tersebut adalah seorang penguasa.

kerjasama-kelompok

Kerjasama kelompok | Photo by Doug Smith is not licensed (Public Domain)

Sifat yang Dibutuhkan untuk Menjadi Pemimpin

Bisnis tidaklah rasional, tetapi tentang merasa aman. Menjadi seorang pemimpin harus memiliki sifat “manusiawi,” memberikan perhatian, waktu, dan bukan uang. Pemimpin yang baik tidak menyelesaikan masalah dengan “berapa banyak yang harus saya bayar?” Tetapi dengan “bagaimana saya dapat membantu anda?” Dengan memberikan waktu dan tenaga, seorang pemimpin akan dapat membuat ikatan yang kuat di dalam anggota kelompoknya.

Seorang pemimpin yang baik juga harus dapat mempercayai anggota kelompok untuk menjadi pemimpin. Mungkin ia adalah orang yang paling hebat dan kompeten, tetapi ia harus sadar bahwa ia tidak dapat membantu semua orang. Oleh karena itu, ia harus mau mendelegasikan tanggung jawab untuk kepentingan bersama. Dalam bagian ini, tugas seorang pemimpin adalah memastikan bahwa anggota yang dia kenal telah mendapatkan rasa aman, dan mempercayai mereka untuk memberikan rasa aman pada anggota dibawahnya. Misalnya, CEO memberikan rasa aman pada manajer dan mempercayai manajer untuk memberikan rasa aman pada supervisor, hal ini berlanjut sampai rasa aman didapatkan oleh satpam atau office boy.

like-fb-kubisnis

Apabila Anda menyukai artikel KuBisnis, bantu KuBisnis untuk tumbuh di www.facebook.com/KuBisnis/

Pemimpin bukanlah posisi, peringkat, atau jabatan, tetapi merupakan keputusan. Ketika anda memutuskan untuk menjaga orang di sebelah anda, anda telah menjadi seorang pemimpin.

Referensi
  1. “Simon Sinek: Why Leaders Eat Last,” 99u, http://99u.com/videos/20272/simon-sinek-why-leaders-eat-last (accessed November 30, 2015).

Kutip artikel ini:
Kontributor KuBisnis, 2015, "Menjadi Pemimpin dalam Startup," Artikel KuBisnis, https://www.kubisnis.com/menjadi-pemimpin-dalam-startup/ (diakses pada 24 Sep 2018).

Artikel Terkait:

Artikel ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda dapat mengisi komentar di bawah untuk memberitahu kami topik atau judul artikel yang Anda inginkan.
Anda juga bisa mengirimkan komentar pada KuBisnis di akun fb/twitter/google kami di @KuBisnis.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan artikel.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kode Verifikasi * Time limit is exhausted. Please reload CAPTCHA.