Produk: Inovasi vs Kecocokan Pasar (Market Fit)


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Produk: Inovasi vs Kecocokan Pasar (Market Fit) (untuk menghemat pemakaian data).

Pada bagian ini kita akan membahas tentang arah produk anda, apakah inovasi atau kecocokan pasar (market fit). Pada dasarnya kedua hal ini tidak mutually exclusive (saling meniadakan), tetapi seringkali inovasi yang dibuat tidak sesuai dengan selera pasar, akibatnya produk menjadi tidak menarik. Beberapa ide pokok sebelum kita mulai membicarakan kelebihan dan kekurangan kedua hal ini adalah:

guy-kawasaki-tedx

youtube.com/watch?v=rWv-KoZnpKw | Video by TEDx Talks is licensed under Standard YouTube License

1. Konsumen Kadang Tidak Tahu Apa Yang Mereka Inginkan
Steve Jobs pernah mengatakan bahwa kadang konsumen tidak mengetahui apa yang mereka inginkan sampai anda menunjukkannya (produk) pada mereka. [1] ini adalah petunjuk yang sangat berarti bagi startup. Ingat ketika pada masa Nokia dan Blackberry sedang jaya, konsumen tidak mengetahui apa yang mereka inginkan. Mereka hanya ingin ponsel yang lebih cepat, baterai yang lebih tahan lama, bobot yang semakin ringan, sinyal semakin kuat, dan harga yang semakin murah. Mereka tidak tahu akan membutuhkan layar sentuh dengan keypad virtual sampai Apple meluncurkan iPhone. Kurangi focus group dan diskusi, dan mulailah berinovasi dengan produk anda.

2. Beberapa Hal Perlu Diyakini Untuk Dapat Dilihat
Beberapa orang percaya bahwa sesuatu perlu dilihat untuk dapat dipercayai, tetapi hal itu bukan untuk entrepreneur sejati. Seseorang harus percaya terlebih dahulu kepada produk barang atau jasanya, baru kemudian mendapatkan hasil yang ia harapkan. Guy Kawasaki mengatakan apabila ia tidak percaya, itu tidak akan terjadi. Apabila ia menunggu bukti, itu tidak akan terjadi. Apabila ia menunggu validasi konsumen, itu tidak akan terjadi. Alasan mengapa Macintosh sukses adalah karena pada inti (core)-nya, 100 orang, mulai dari Steve Jobs, percaya pada Macintosh. Karena mereka percaya, mereka dapat menjadikan mimpi menjadi kenyataan. [2]

3. Pasar Dapat Diciptakan
Salah satu produk yang mungkin paling rendah nilainya adalah air mineral kemasan. Bisa dibayangkan Indonesia yang negara tropis dengan curah hujan yang sangat tinggi ini juga mengkonsumsi air mineral kemasan. Air mineral kemasan bermain pada persepsi tentang kesehatan dan kebersihan air, sehingga menciptakan pasar baru yang peduli tentang kesehatan (biasanya menengah ke atas dan pendidikan tinggi), dan dari sana mulailah pasar air mineral menjadi berkembang. Apabila seseorang mempunyai produk yang bernilai, sekalipun belum ada pasarnya, ia dapat menciptakan pasar sendiri. Menciptakan pasar membutuhkan proses edukasi yang panjang, namun ketika itu berhasil, ia akan menjadi pemimpin pasar.

inovasi

Inovasi | Photo by jarmoluk is not licensed (Public Domain)

Inovasi

Inovasi adalah suatu nilai yang tidak dimiliki oleh setiap organisasi. Apabila seseorang adalah orang yang selalu berorientasi pada buku (text book oriented), ia akan kesulitan dalam berinovasi, dan ini tentunya akan diikuti oleh organisasi yang ia pimpin. Risiko untuk menciptakan sesuatu yang baru akan sangat tinggi dibandingkan ketika bermain pada pasar yang sudah ada, apalagi tidak terhitung banyaknya perusahaan yang bangkrut karena membuat sesuatu yang tidak disukai oleh pasar. Inilah mengapa “beberapa hal perlu diyakini untuk dapat dilihat,” anda tahu sulitnya meyakini sesuatu yang sangat tidak pasti dan penuh risiko bukan?

Sayangnya, mungkin semakin tinggi pendidikan seseorang, ia akan semakin sulit berinovasi dan menciptakan produk baru. Hal ini karena ia sudah dipenuhi dengan pemikiran-pemikiran yang terlalu tekstual, dan pendidikan sepertinya memang memangkas kreativitas. “Mau kaya ngapain sekolah” adalah hal kata-kata untuk menggambarkan kondisi ini. Kabar baiknya, kita dapat mengembalikan kreativitas kita dengan cara melupakan hal-hal mikro, makro, riset konsumen, dan kembali ke hakekat wirausaha, yaitu menciptakan sesuatu yang memberi makna bagi lingkungan kita. Mengetahui ilmu-ilmu berbisnis bisa menjadi sangat berguna, tetapi cobalah untuk memperluas pandangan, dan ciptakan ilmu bisnis anda sendiri, bukan ilmu Kottler, Damodaran, Brigham, Kreitner, dll.

Kecocokan Pasar (Market Fit)

Apabila seseorang bermain pada pasar yang sudah terbentuk, maka risikonya akan menjadi jauh lebih kecil. Ia akan dapat menilai praktik terbaik (en: best practice) dan indikator kunci kinerja (KPI) pada kompetitor atau market leader pasarnya. Ia juga dapat mengetahui tabel fitur dan manfaat dari produk-produk kompetitor sehingga dapat melakukan segmenting, targeting, & positioning (STP) dengan lebih mudah. Sayangnya walaupun ia sudah membuat produk yang diinginkan pasar, tidak ada jaminan mereka akan membeli produknya. Misalnya dari survei konsumen, saran pakar, dan focus group, konsumen menginginkan rokok dengan kemasan unik, dengan kertas rokok yang tidak hanya putih polos, tetapi ditambah dengan gambar yang menarik. Apabila mereka menuruti hal itu, tidak ada jaminan bahwa penjualan rokok mereka akan meningkat, sehingga inilah yang dikatakan Guy Kawasaki bahwa hal-hal ini (riset) sebenarnya tidak ada gunanya.

konsep-strategi

Konsep strategi | Photo by Denis Fadeev is licensed under CC-BY-SA-3.0

Inovasi & Market Fit

Ya, keduanya sebenarnya tidak saling meniadakan. Sorensen dan Brocchini percaya bahwa Product-Market Fit adalah kunci dari “keberlanjutan (en: sustainable) dalam inovasi.” Untuk mempertahankan posisi ini, mereka menggunakan tiga hukum gangguan (disruption).
Hukum I: Gangguan datang pada kita semua.
Hukum II: Semua gangguan disebabkan oleh perubahan Product-Market Fit.
Hukum III: Hanya ada tiga metode untuk mengubah Product-Market Fit:

  • Mengubah produk sehingga lebih baik agar cocok dengan target market.
  • Mangubah pasar sehingga lebih cocok dengan produk.
  • Mengubah preferensi konsumen sehingga menilai lebih tinggi produk anda. [3]

Komentar penulis: mengubah produk membutuhkan inovasi, mengubah pasar dan preferensi konsumen membutuhkan produk yang bernilai, atau setidaknya anda percaya produk anda bernilai 🙂

like-fb-kubisnis

Apabila Anda menyukai artikel KuBisnis, bantu KuBisnis untuk tumbuh di www.facebook.com/KuBisnis/

Referensi
  1. Business Week, 1998, “STEVE JOBS: THERE’S SANITY RETURNING,” http://www.businessweek.com/1998/21/b3579165.htm (accessed November 5, 2015).
  2. Bariso, J., 2014, “12 Pivotal Lessons Steve Jobs Taught Guy Kawasaki,” Inc., http://www.inc.com/justin-bariso/12-pivotal-business-lessons-steve-jobs-taught-guy-kawasaki.html (accessed November 5, 2015).
  3. Kane, N., 2014, “The Three Laws Of Disruption,” Forbes, http://www.forbes.com/sites/neilkane/2014/06/16/the-three-laws-of-disruption/ (accessed November 5, 2015).

Kutip artikel ini:
Kontributor KuBisnis, 2015, "Produk: Inovasi vs Kecocokan Pasar (Market Fit)," Artikel KuBisnis, https://www.kubisnis.com/produk-inovasi-vs-kecocokan-pasar-market-fit/ (diakses pada 10 Dec 2018).

Artikel Terkait:

Artikel ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda bisa mengirimkan saran pada KuBisnis di akun fb/twitter/google kami di @KuBisnis.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan artikel.