Memilih Co-founder Yang Tepat Untuk Usaha Anda


Laman ini adalah tampilan standar. Akses versi seluler cepat laman ini di: Memilih Co-founder Yang Tepat Untuk Usaha Anda (untuk menghemat pemakaian data).

Dalam fase awal usaha seseorang, ia akan dihadapkan kepada pilihan apakah ia akan bekerja sendiri (fly solo) atau ingin seorang co-founder untuk membantu usahanya. Ini adalah keputusan yang memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing. Seseorang mungkin lebih menyukai seluruh keputusan di tangannya, atau ingin mempertahankan 100% kepemilikan usahanya ketika memutuskan untuk tidak merekrut co-founder. Tetapi ia harus menyadari bahwa sehebat apapun dirinya, ia pasti memiliki kelemahan yang dapat ditutupi oleh seorang co-founder. Artikel ini membahas pentingnya co-founder dan cara memilih co-founder yang tepat untuk usaha anda.

Statistik Lebih Menyukai Co-founder

Dari statistik, bisnis akan lebih berpeluang untuk sukses apabila memiliki lebih dari satu founder, karena setiap co-founder akan memberikan kekuatan yang berbeda. Paul Graham menggunakan Apple sebagai contoh: Steve Jobs sebagai orang yang ahli dalam penjualan, sementara Steve Wozniak ahli dalam teknologi. Itulah mengapa Y Combinator (YC) biasanya menyuruh pelamar untuk mencari co-founder. [1]

Menurut data Noam Wasserman pada startup teknologi dan startup life science yang potensial:
16,1% Solo founder
33%+ Lebih dari dua founder
50%+ Lebih dari tiga founder [2]

Data di atas mengindikasikan bahwa memang startup sangat sulit untuk bisa ditangani seorang diri, kecuali apabila memang anda adalah seseorang yang “super.” Lalu bagaimana cara untuk memilih co-founder yang tepat?

jobs-dan-wozniak

Jobs dan Wozniak | Photo by thetaxhaven is licensed under CC-BY-2.0

Pilihlah Co-founder Yang Pernah Bekerja Dengan Anda

Idealnya, co-founder adalah orang yang sudah memiliki sejarah yang lama dengan anda, sehingga anda sudah mengenal satu dengan yang lain secara lebih mendalam. Tetapi, tidak semua hubungan bernilai dalam hal memilih co-founder. Hubungan kerja adalah yang paling relevan. Seseorang dapat memilih sahabat bermain, kekasih, saudara, dll.; tetapi ingat walaupun ia sudah mempunyai hubungan yang kuat, hubungan tersebut tidak tercipta karena pekerjaan. Pertanyaan yang paling penting adalah apakah ia dapat mengandalkan co-foundernya dalam menangani masalah pekerjaan? Apakah kemampuan kerja co-foundernya memang bagus? Apakah ia dapat bekerja sama dengan si co-founder? Apabila jawabannya tidak, maka hubungan tersebut hanya akan membawa beban bagi startupnya. Apabila anda memiliki tim kerja yang solid sewaktu kuliah atau sewaktu bekerja? Selamat! Anda sudah selangkah lebih dekat dengan kesuksesan apabila mendirikan usaha sendiri.

page-dan-brin

Larry Page dan Sergey Brin | Photo by Origafoundation is licensed under CC-BY-SA-3.0

Pilihlah Co-founder Yang Komplementer Dengan Kemampuan Anda

Banyak sekali keahlian (skill set) di dunia ini, sehingga tidaklah tepat apabila co-founder anda memiliki keahlian yang tumpang tindih dengan keahlian anda. Pilihlah co-founder yang dapat menutupi kekurangan anda, sehingga kombinasi dari anda dan co-founder menjadi kuat dan “sempurna”. Sebagai contoh dalam startup teknologi, apabila seseorang memiliki latar belakang teknik, ambil co-founder yang non-teknik. Ia harus sadar bahwa programmer (teknikal), akan buruk dalam hal presentasi, menjual, dan memasarkan produk. Guy Kawasaki berkata bahwa “tech speaker usually sucks.” Sebaliknya, yang non-teknik akan buruk dalam hal analisis, dan tentunya tidak dapat menciptakan produk yang akan dijual.

liu-bei-guan-yu-zhang-fei

Liu Bei, Guan Yu, dan Zhang Fei | Photo by Dhugal Fletcher is licensed under CC-BY-SA-2.0

Pilihlah co-founder yang memiliki belief yang sama

Ketika seseorang yakin bahwa usahanya akan dapat memberikan makna bagi lingkungannya, hal itu sebaiknya juga diimani oleh co-foundernya. Sebuah tim yang dibentuk sudah semestinya memiliki visi, misi, dan tujuan yang sama; agar dapat berfungsi dengan maksimal. Ikatan mimpi ini akan lebih kuat dari ikatan apapun dan tidak akan tergoyahkan. Ingat bahwa dalam startup terkadang suatu hal harus dipercayai terlebih dahulu untuk dapat dilihat. Yakinlah bahwa anda sendiri (founder tunggal) atau anda berdua, bertiga, berempat dengan co-founder harus yakin pada usaha yang anda dirikan, dan yakin bahwa usaha tersebut akan membawa dunia ke arah yang lebih baik. Dalam usaha, “sales fix everything,” tetapi ketika belum ada penjualan, mimpi tersebut yang akan membuat tim anda tetap solid dan bekerja dengan moral yang tinggi.

Referensi
  1. Mangalindan, J. P., 2014, “Y Combinator’s Paul Graham: Get a co-founder,” Fortune, http://fortune.com/2014/02/25/y-combinators-paul-graham-get-a-co-founder/ (accessed November 5, 2015).
  2. Wasserman, N., 2012, “The Founder’s Dilemmas: Anticipating and Avoiding the Pitfalls That Can Sink a Startup,” Princeton University Press, New Jersey.

Kutip artikel ini:
Kontributor KuBisnis, 2015, "Memilih Co-founder Yang Tepat Untuk Usaha Anda," Artikel KuBisnis, https://www.kubisnis.com/memilih-co-founder-yang-tepat-untuk-usaha-anda/ (diakses pada 10 Dec 2018).

Artikel Terkait:

Artikel ini bukan yang Anda butuhkan?
Anda bisa mengirimkan saran pada KuBisnis di akun fb/twitter/google kami di @KuBisnis.
Topik dengan voting komentar terbanyak akan mendapatkan prioritas dibuatkan artikel.